Siapa yang Tak Sanggup Mendaki akan Mati!

Gunung Everest terkenal sebagai gunung tertinggi. Siapa pun yang bisa raih puncaknya diakui bisa menaklukkan dunia. Beberapa orang tersedia yang berhasil, sementara sisanya justru kehilangan nyawa selagi mencoba menggapainya.

Mendaki gunung sebenarnya tidak mudah, bahkan bersama puncak yang tinggi. Kegiatan ini mampu memicu kita mengalami hipotermia, radang dingin, problem psikosis, terkena longsoran salju dan batu, hingga jatuh ke celah-celah gunung. cek disini Keranda Mayat

Dikira kirakanDiperkirakan tersedia 300 orang yang meninggal selagi mengusahakan raih puncak Everest, sejak pendakian pertama pada 1922. Dan 200 mayat mungkin tetap ada di gunung tersebut karena jasadnya tidak berhasil ditemukan.

Tetapi, berkat melelehnya es di puncak Everest gara-gara efek perubahan iklim, mayat-mayat ini pun terungkap.

Baca Juga : Kerusakan Lahan, Salah Satu Penyebab Banjir Bandang di Sentani

“Karena pergantian iklim, lapisan es dan gletser mengalami pencairan dengan cepat. Jasad-jasad yang sepanjang bertahun-tahun terkubur, kini merasa terlihat,” papar Ang Tshering Sherpa, presiden Nepal Mountaineering Association kepada BBC News.

“Kami telah mempunyai turun lebih dari satu jenazah pendaki yang meninggal belum lama ini. Namun, mereka yang kehilangan nyawa bertahun-tahun selanjutnya pun mampu ditemukan,” imbuhnya.

Meski begitu, ada lebih dari satu perihal yang perlu diperhatikan saat memindahkan mayat tersebut. Termasuk soal biaya, bagian keluarga, dan termasuk aspek politik (perlu diingat bahwa Gunung Everest terletak di antara Nepal dan Tibet).

Everest, yang menjadi anggota dari Himalaya, berdiri 8.848 meter di atas permukaan laut. Kain Keranda Studi pada 2015 mengutarakan bahwa gunung ini telah kehilangan gletser dan lapisan esnya sebanyak 70-99%.

Pada 2017, anggota tubuh pendaki yang mati dan membeku, merasa muncul ke permukaan tanah. Dan sejak kala itu, lebih banyak kembali mayat yang ditemukan bersamaan mencairnya lapisan es di Everest. Menurut petugas setempat, kemungkinan kuantitas penemuan ini dapat jadi meningkat pada musim semi dan musim panas mendatang.

Seorang pekerja pemerintahan yang bertugas di Everest mengatakan: “Saya sendiri telah mengumpulkan lebih kurang sepuluh mayat di wilayah tidak serupa di Everest sebagian tahun belakangan ini. Jelas sekali tambah banyak yang terungkap sekarang.”

Baca Juga : Penyelundupan Kura-kura di Pesawat, Kali Ini Ditempatkan Dalam Kotak Roti

Para pendaki yang dambakan mendaki Everest pernah mengatakan bahwa dikala mati, mereka lebih senang dibiarkan berada di gunung. Hal ini mungkin terdengar suram, tapi tersedia tekad mulia di baliknya. Mayat mereka dapat menjadi penanda bagi pendaki lain dan membantu mengarahkan ke jalan yang benar.

Namun, bersama 200 jenazah yang ditemukan di gunung Everest, tampaknya pemerintah tidak dapat membiarkannya di sana. Diketahui bahwa untuk mempunyai turun jenazah berasal dari Everest, harus ongkos hingga 70 ribu dollar AS.

Liputan6.com, Nepal Penampakan jasad di tempat Gunung Everest yang lebih tinggi memang jadi landmark (ciri khas, suatu hal yang paling menonjol) bagi para pendaki. Salah satu cerita yang tenar bersifat penampakan sepatu bot hijau yang berada di dekat puncak.

Sepatu itu merujuk pada seorang pendaki yang meninggal di bawah batu yang menggantung. Sepatu bot hijau miliknya masih berdiri dan menghadap ke rute pendakian.

BACA JUGA
Cerita Dokter IDI Naik Turun Gunung Tangani Korban Tsunami Selat Sunda
Terungkap Makanan Terakhir Manusia Gunung 5.300 Tahun Lalu
Tulang Orang Gunung Ternyata Beda bersama Tulang Orang Pantai
Beberapa pakar pendakian menyebutkan mayat berikut sudah dipindahkan sementara. Pejabat pariwisata Nepal menambahkan, mereka juga tidak punyai informasi, apakah mayat tetap muncul atau tidak.

Menurunkan dan memindahkan mayat berasal dari kamp-kamp yang lebih tinggi di Gunung Everest sanggup menjadi mahal dan sulit. Biaya menurunkan mayat saja $40.000 atau setara Rp572 juta sampai $80.000 atau setara Rp1,1 miliar.

“Salah satu penurunan mayat yang paling susah adalah dari ketinggian 8.700m, di dekat puncak,” kata mantan presiden Asosiasi Pendaki Gunung Nepal, Ang Tshering Sherpa, dikutip dari BBC, Minggu, 24 Maret 2019.

“Jasad itu amat beku dan beratnya 150 kg serta kudu dipindahkan dari area yang sukar di ketinggian itu.”

Setiap ketentuan perihal apa yang perlu dilaksanakan terhadap mayat di Gunung Everest terhitung persoalan yang terlalu pribadi.

“Kebanyakan pendaki yang tewas bahagia dibiarkan saja di gunung. Jadi, bakal diakui tidak sopan cuma memindahkan mayat, terkecuali mereka harus dipindahkan dari rute pendakian atau keluarga mereka menginginkannya,” tutur pendaki gunung terkemuka, Alan Arnette.

menyimpan pesona tersendiri bagi para pendaki gunung. Memiliki panorama indah dan posisi gunung tertinggi di dunia, tak sedikit pendaki yang mengalami kecelakaan apalagi kehilangan nyawa sementara mencoba menaklukkannya.

ADVERTISING

inRead invented by Teads
Dilansir Guideku dari BBC, diperkirakan 2/3 dari 300 mayat pendaki yang meninggal tetap tertimbun di bawah salju tebal. Namun, laporan terkini menyebut mayat-mayat tersebut menjadi bermunculan di jalan pendakian.

Mayat-mayat itu sendiri dikabarkan keluar di daerah Camp 1, Camp 4, dan gletser Khumbu.

Maka, bukan tidak kemungkinan terkecuali para pendaki Everest nantinya bakal bersua dengan mayat-mayat pendaki sebelumnya.

Lalu, apa penyebab mayat-mayat pendaki ini tiba-tiba bermunculan? Usut miliki usut, hal ini ternyata disebabkan oleh pemanasan global yang sebabkan es dan gletser di Gunung Everest mencair.

“Kami udah mempunyai turun mayat para pendaki yang meninggal baru-baru ini, tapi mayat yang sudah lama terkubur merasa muncul sekarang,” paham Ang Tshering Sherpa, mantan presiden berasal dari Nepal Mountaineering Association.

Demi menangani hal tersebut, para pendaki dari komunitas Sherpa pun udah diberangkatkan untuk mengangkut mayat-mayat yang terlihat.

Mayat pendaki mulai bermunculan di Gunung Everest akibat pemanasan global. (Shutterstock)
Mayat pendaki merasa bermunculan di Gunung Everest akibat pemanasan global. (Shutterstock)
Selain tidak mudah dilakukan, proses mengangkut mayat ini rupanya terhitung kuras ongkos yang tidak sedikit yaitu mencapai 570 juta sampai 1 miliar rupiah.

Tidak cuma itu, berkenaan turunkan mayat berasal dari gunung ini rupanya terhitung merupakan isu personal.

“Banyak pendaki lebih suka ditinggalkan di gunung yang mereka daki disaat meninggal. Akan tidak sopan kecuali kami menghilangkan mereka tanpa diminta,” ujarnya lagi.

Meski begitu, pihak berwenang di Gunung Everest termasuk tidak punya banyak pilihan gara-gara es makin lama tidak tebal dan gletser Khumbu terhitung terus bergeser.

Tak heran, lebih dari satu besar pendaki Gunung Everest pun biasanya kudu udah siap mental untuk menyaksikan mayat pendaki lainnya di dalam sistem pendakian. (Guideku/Amertiya Saraswati)