Saatnya Santri Melek Konsep Muamalah Kontemporer; Revitalisasi Hukum dengan Santun dan Islami

Pada era modern seperti sekarang ini peradaban manusia betul- betul menghadapi transformasi yang begitu pesat. Terus menjadi derasnya arus pertumbuhan terknologi, tampaknya memanglah berdampak pada style hidup manusia sampai kurang ingat hendak kemana dia akan kembali. Oleh karena itu, bagaikan Santri seyogyanya wajib melek konsep Muamalah secara kontemporer supaya sanggup menjawab seluruh berbagai problematika di lingkungan warga.

Santri, bukan cuma hanya sesuatu julukan. Tetapi Santri ialah cerminan jati diri seseorang insan yang sudah memahami individu dari segi bathin baik pula zhohir.

Santri, tidak cuma sebatas ngaji di pondok pesantren.

Malah Santri sejatinya sanggup membuat atmosfer apapun serta dimanapun jadi suatu ruang bimbingan.

Santri, bukan berarti kalangan apatis. Sejatinya tanggung jawab yang utama untuk seseorang Santri merupakan mengayomi serta menegaskan masyarakatnya supaya bersama- sama mengarah kepada jalur yang dirahmati oleh Allah Swt.

Santri, bukan hanya kalangan sarungan. Tetapi Santri merupakan sesosok individu yang berupaya seluruhnya buat mengabdikan diri kepada sang ilahi.

Sedikitnya hipotesis yang sudah tersebutkan diatas pastinya untuk menjadi seseorang santri tidaklah sesuatu capaian yang dapat diraih dengan gampang. Jadi, Santri wajib sanggup menguasai agama langit secara disiplin serta cocok dengan tuntunan dari sang guru.

Agama langit merupakan ajaran yang diperuntukkan buat umat manusia. Cakupannya amat luas, sehingga konteksnya tidak terbatas. Ajaran ini begitu fitrah (murni) yang secara tidak berubah-ubah jadi pedoman dalam kehidupan peradaban manusia dari era ke era.

Pedoman tersebut berbentuk kutub yakni buku-buku yang dinamakan Al- Qur’ an, Taurat, Injil, serta Zabur. Al- Qur’ an merupakan kitab yang sangat istimewa, sebab isi kandungannya mencakup 3 kitab (Taurat, Injil, & Zabur) di dalamnya.

Oleh karena itu, seseorang Santri dalam menguasai Al- Qur’ an bukan suatu perihal yang gampang, yang tidak terlepas dari Nahwu, Bayan, Mantiq, Ma’ ani serta Bhalagah, Tarikh, Riwayah serta sains. Kenyataan yang telah disebutkan faktanya para ulama sudah setuju tercantum Al- Habib Al- Mursyid M. Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya sempat mengatakan perihal demikian.

Sepanjang ini terus menjadi jelaslah pula, nyatanya jadi Santri merupakan jadi pelopor- pelopor kemajuan bangsa sebab tanggung jawabnya tidak sebatas terhadap diri sendiri. Tujuan utama Santri merupakan kesejahteraan warga.

Demi menunjang penyataan diatas, lalu apa yang wajib dicoba oleh seseorang Santri? jadi Santri baiknya lebih fleksibel, supaya tidak sangat monoton dalam berlagak. Santri yang bagaimana yang diharapkan? pada masa ini, yang diperlukan dari seseorang Santri ialah sesosok yang piawai, sehingga memunculkan kesegaran pada setiap lapisan masyarakat.

Baca juga: Seorang bule masuk Ukraina masuk Islam di PBNU

Dewasa ini tentu sudah saatnya seseorang Santri wajib sanggup jadi referensi di masing- masing kasus di warga. Karenanya Santri perlu melek konsep muamalah dan keterkaitannya.

jabalkat

Dalam hal ini saya memiliki sebuah buku yang berjudul “JABALKAT (Jawaban Problematika Masyarakat)”. Buku ini berisi lebih dari 450 jawaban atau berbagai problematika masyarakat, baik yang berkaitan dengan akidah, ibadah, muamalah ataupun interaksi sosial lain yang sering mencuat di tengah-tengah masyarakat.

Buku ini merupakan kumpulan dari bahtsul masail yang disusun oleh purna siswa 2015 MHM Lirboyo.