Perbedaan Hujan Rahmat Dan Hujan Azab

Sekarang adalah masa ketika musim transisi berubah, dari musim kemarau ke musim hujan.

Jika musim kemarau ditandai oleh panas yang menyengat, dan musim hujan ditandai oleh awan yang menggantung.

Dikutip dari waheedbaly.com Jadi entah karena pemanasan global atau jika dunia telah menua, sekarang hujan tidak boleh ditandai oleh awan gelap atau panas yang tidak selalu tiba meskipun musim kemarau.

Berbicara waktu, ketika musim kemarau, kami suka melafalkan doa untuk hujan, bahkan dikombinasikan dengan doa istisqa.

Ketika musim hujan tiba, hujan tidak selalu membantu banyak orang. Terutama bagi orang yang tinggal di daerah rawan banjir.

Banjir telah menjadi masalah besar selain kemacetan lalu lintas dan juga sampah yang tak terhindarkan. Seperti buah Simalakama.

Bedakan Hujan Rahmat dan Hujan Azab

Ketika musim kemarau membutuhkan hujan, tetapi ketika hujan datang, bencana lain terjadi, jadi kita manusia hanya bisa berdoa agar hujan berhenti sejenak.

Subhanallah, sesungguhnya kita sebagai mahluk tidak akan pernah bisa tidak berdaya di hadapan-Nya.

Jadi bagaimana Anda tahu kalau hujan yang datang adalah hujan penuh rahmat dan bukan sumber bencana?

Allah SWT menurunkan air dari awan lembut yang disebut hujan, dan kehadirannya terkadang tampak begitu menyenangkan bagi semua orang.
Tetapi hujan sering datang pada saat orang-orang sibuk keluar sehingga sering kali mereka menyalahkan hujan.

Dan di antara mereka yang menunggu kehadiran hujan, mereka pasti akan bersyukur dan bahagia karena hujan yang turun adalah bentuk rahmat dan kebaikan.

Supaya mereka tidak membaca doa sehingga hujan segera berhenti karena mereka masih menikmati rahmat-Nya.

Bagaimana jika Anda berdoa agar hujan berhenti sementara? Bukankah aman mengetahui bahwa hujan semakin deras dan macet, misalnya?

Mungkin tidak apa-apa membaca doa sehingga hujan berhenti sebentar, tetapi tahukah Anda bahwa ada tanda-tanda hujan yang membawa kemurahan dan hujan yang membawa takdir?

Dalam Alquran dijelaskan bahwa hujan memiliki dua istilah. Hujan yang memiliki arti kebaikan dan hujan yang berarti kemalangan.

1. Hujan yang memiliki makna menguntungkan

Hujan yang mendatangkan kebaikan atau rahmat biasa disebut dengan istilah ghaits غيث lihat surat Asy-Syura 28.

وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ ۚوَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِي
Dan Dialah yang menurunkan hujan karena mereka berputus asa dan melepaskan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.

2. Hujan yang memiliki arti azab

Dalam Al-Qur’an biasanya disebut dengan istilah مطر. Berikut beberapa surat dalam Al-Qurʻan berikut ini:
Surat Al-Arafraf 84

وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا فَانْظُرْ كَيْفَ كَاَْ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ
Dan Kami turunkan ke mereka hujan (batu); maka pilihlah bagaimana kesempurnaan orang-orang yang berdosa itu.

Surat Asy-Syu’ara 173

Unduh
Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu) maka sangat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang harus disetujui itu.

Annaml 58

Unduh
Dan Kami turunkan hujan atas mereka (hujan batu), maka sangat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang berhak karena itu.

Masya Allah, ini ternyata menjadi alasan mengapa kita umat Islam harus membaca doa sehingga hujan berhenti ketika kita bertemu hujan yang cukup kuat.

Selain berdoa agar hujan berhenti berharap bahwa hujan tidak membawa nasib, dan bahkan semua makhluk di bumi dapat mengasihani ketika hujan datang.

Artinya dengan meningkatkan bacaan doa sehingga hujan berhenti dalam Islam.

Sumber : doa hujan reda